1 Juli 2010

Jelajah: Meru Betiri National Park











Sebelum memulai perjalanan ke Bali akhir pekan ini, saya akan berbagi perjalanan menyusuri Meru Betiri National Park minggu lalu bersama 6 orang teman.



Minggu, 27 Juni 2010

Pagi ini saya dan beberapa teman akan melakukan perjalanan menuju pantai Bandealit yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Merubetiri. Letaknya di selatan pulau Jawa bagian timur, yang membujur antara kota Jember sampai Banyuwangi.

Berikut rute dan waktu tempuh yang kita lalui:
1. Jember - Ambulu: 23 KM waktu tempuh 30 menit
2. Ambulu - Kotta Blatter: 8 KM waktu tempuh 10 menit
3. Kotta Blatter - Perkebunan Kalisanen: 3KM waktu tempuh 5 menit
4. Perkebunan Kalisanen - Curah Nongko: 6 Km waktu tempuh 10 menit
5. Curah Nongko - Andong Rejo (pos 1): 3 KM waktu tempuh 5 menit
6. Andong Rejo - Tumpak Gesing (Pos 2): 5 KM waktu tempuh 25 menit
7. Tumpak Gesing - Pabrik Kopi (pos 3): 5 KM waktu tempuh 50 menit
8. Pabrik kopi - Pantai Bandealit: 4 KM waktu tempuh 15 menit
dan perjalanan lanjutan ke Tanjung Papuma, Watu Ulo
9. Ambulu - Tanjung Papuma: 13 KM waktu tempuh 20 menit

Planning awal berangkat jam 7 pagi akhirnya harus molor setengah jam, persiapan kami untuk bekal dan kamera sudah siap semua. Perjalanan dari Jember menuju Ambulu sangat mulus, kondisi jalanan juga bagus. Sesampai di Perempatan trafficlight Ambulu dilanjutkan belok ke kiri menuju perkebunan Kalisanen.

Sepanjang perjalanan sampai pos pertama, kita disugguhi pemandangan pohon2 karet yang berjejer rapi membentuk barisan. Beberapa pengunduh getah karet sudah mulai mengangkut hasil panennya dan di kumpulkan di bak-bak yang terbuat dari bata semen.

Satu jam perjalanan, kita sudah sampai di desa Andong Rejo yaitu pos Pertama. Di sini kita harus bayar tiket masuk, tiket masuk 2500 per orang di tambah tiket mobil 10000. Setelah palang pintu Pos I dibuka, langsung dihadapkan pada jalanan menanjak. kondisi jalan berupa aspal yang sudah banyak lubang di sana sini.

Pemandangan dari pos I menuju pos II masih banyak ladang di lereng-lereng bukit, dari balik pohon besar nampak gunung Semeru nun jauh di sana. Setengah jam perjalanan sampailah kita di pos II, Tumpak Gesing. Setelah minta ijin pak Hansip, mereka langsung membukakan palang pintu. Di pos II ini nampak ada beberapa rumah tempat tinggal.

Jalanan setelah pos II sungguh penuh perjuangan, hanya berupa tumpukan batu dan banyak genangan air bekas hujan. Tidak jauh dari pos II, nampak batang pohon tumbang yang melingkar diatas jalan. Sungguh cantik, bak gerbang pintu yang alami. Batang pohon itu sudah banyak ditumbuhi daun-daun anggrek hutan, kita mengambil beberapa gambar disini.

Meskipun jarak menuju desa Bandealit hanya 5 KM, tetapi perjalanan cukup berat dan memakan waktu hampir satu jam. Ditengah perjalanan nampak pagar kawat bercat hijau, di papan nama tertulis Rafflesia dan peta petunjuk arah. Ternyata di sini tumbuh beberapa bunga bangkai Rafflesia, kita coba untuk menaiki tangga yang sudah berlumut. Ternyata hasilnya nihil, kita hanya melihat satu bunga bangkai yang sudah membusuk.

Sebelum memasuki desa Bandealit, dari atas bukit sudah nampak pabrik kopi. Perjalanan turun menyusuri bukit hingga sungai yang membelah desa, jembatan kayu nampak kokoh diatasnya. Pemandangan sungai sangat menarik, hamparan batu besar dan kecil yang dialiri air sangat jernih. Disini kita bertemu beberapa penduduk dan pelancong, mereka dengan ramah menujukkan jalan bagi kita.

Dari balik pabrik Kopi Bandealit, sudah nampak pos terakhir. Di pos III ini, kita harus mengisi buku tamu. Ternyata sudah ada 4 rombongan yang mendahului kita hari ini. Perjalanan masih 3-4 KM lagi menuju pantai, tetapi kondisi jalan cukup mulus walau hanya tanah padat.

Dari pos III nampak berjejer rumah-rumah penduduk sampai terlihat kubah Masjid di ujung jalan. Di penghujung desa tampak bangunan sekolah SD dan SMP Andong Rejo 3, dan lapangan sepak bola di seberangnya.

Menyusuri jalan menuju pantai, di kiri jalan nampak tumbuh pohon jeruk bali sedang di kanan tumbuh pohon lamtoro sampai keatas bukit. Sayangnya jeruk bali sudah di panen bulan lalu, saya sempat mencicipinya dan rasanya sangat manis sekali.

500 meter sebelum pantai berdiri Resort Bandealit, disini kita harus menyerahkan tiket masuk pada petugas. Resort ini adalah pos Pantai Bandealit, yang juga berfungsi untuk penginapan. Tapi jangan bayangkan resort-resort di Bali ya, hanya berupa bangunan pos dan ruang untuk tidur.

Saya sempat melihat papan petujuk menuju savanah Pringtali masih 2 Km menuju ke barat. Tetapi petugas resort memberi indormasi kalau savanah sudah ditumbuhi pohon-pohon.

Sejajar dengan resort Bandealit berdiri beberapa rumah nelayan, nampak beberapa jala yang baru di pakai bergelantungan di teras rumah. Desa ini cukup sejuk dengan tumbuhnya pohon-pohon besar di seberang jalan.

Dari balik pohon-pohon besar sudah terlihat birunya laut dan dan putihnya langit, bergegas kita parkirkan mobil di padang rumput. Sebelum pantai terdapat genangan air berupa danau, mungkin ini muara sungai. Ada sepasang anak yang sedang asik bermain disana, dan 3 remaja sedang memandikan kerbau di ujung yang lain.

Dengan menyiapkan kamera dan bekal yang kita bawa dari rumah, kita mencari tempat untuk melepas lelah dan menikmati pemandangan pantai. Ahirnya kita duduk di batu karang besar, dan makan siang disana. Ada beberapa nelayan yang baru pulang dari melaut, dan rombongan wisatawan yang sedang asik bermain di pantai.

Satu jam lebih menikmati indahnya pantai Bandealit dan sudah puas mengabadikan beberapa pemandangan disana, akhirnya kita balik pulang. Dari balik bukit sudah nampak awan hitam tebal mulai turun, deburan ombak menyerupai buliran kapas.

Di perjalan pulang tidak lupa kami mengambil beberapa foto di Pabrik kopi, sebelum hansip itu menegur kita.

Sesampai di Ambulu, perjalanan di lanjutkan ke Tanjung Papuma. Kali ini kita melewati hutan jati sebelum Watu Ulo, jadi tidak perlu bayar tiket masuk lagi di Watu Ulo. Sampai di bukit Tanjung papuma, kita menyusuri tangga turun menuju goa kelelawar. Di sini terdapat batu karang besar yang didalamnya hidup gerombolan kelelawar, akhirnya kita menyusuri pasir putih sampai di kelenteng.

Dengan maksud mencari obyek foto di ujung tanjung Papuma, kita memasuki daerah Perhutani dan bayar tiket parkir 2000. Saat mengambil beberapa gambar, kita di datangi petugas perhuitani. Mereka bilang kalau mengambil gambar dengan kamera besar harus ijin dulu, HAH??? peraturan yang aneh!!! Dengan sedikit rasa jengkel akhirnya kita meninggalkan pantai Papuma....

Tiket Masuk:
1. Pos I desa Andong Rejo: 2.500/orang
2. Loket Tanjung Papuma: 7.000/orang

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Sangat informatif dan berguna........fotonya bagus-bagus....Jempol

Surabaya Tourism Visit mengatakan...

Very nice and very informative ....