Laman

Tampilkan postingan dengan label kediri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kediri. Tampilkan semua postingan

9 Mei 2012

K-LAND: Arung Jeram di sungai Kunto Kediri






ADVENTURE TRIP (KEDIRI RAFTING) bareng temen-temen dari Liburan Murah yang diadakan oleh Mbak Yulijantik Yushin

Minggu, 29 April 2012
05.30-08.00   Menuju Base Camp K-Land Dusun Swaru, Desa Damarwulan, Kec.Kepung, Kediri
08.00-10.30   RAFTING MENYUSURI SUNGAI KONTO KEDIRI






10.30-12.30   Mandi + Makan Siang
12.30-13.30   Wisata Candi Tegowangi
Candi Tegowangi terletak di desa Tegowangi, kecamatan Plemahan yang merupakan wilayah utara kabupaten Kediri. Candi Tegowangi merupakan salah satu monumen agung warisan Kerajaan Majapahit.
Candi ini dibangun kurang lebih tahun 1400 masehi. Kitab Pararaton dan Negarakertagama menyebutkan bahwa Bhre Matahun setelah wafat pada tahun 1388 masehi, kemudian didarmakan di Tigowangi yang disebutkan berada di Kusumapura dengan upacara Srada setelah 12 tahun kematiannya.
Candi ini dibangun dengan batu andesit dengan pondasi dari batu bata merah dengan orientasi arah ke barat. Diatas Candi terdapat yoni dengan pahatan yang sangat indah dihiasi motif binatang dan naga serta batu pipih. 




14.00-14.30   Wisata Candi Surowono
Seperti halnya Candi tegowangi, Candi Surowono merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit yang berada di wilayah Kediri. Candi ini terletak di desa Canggu, Kecamatan Pare Kabupaten Kediri.
Candi ini didirikan pada abad ke 15 memiliki beragam keunikan baik dari segi arsitetur maupun reliefnya. Namun sangat disayangkan, bagian yang tersisa adalah kaki dan tubuh candi, sedangkan atapnya runtuh.
Candi ini dibuat untuk mendharmakan Bhre Wengker yang wafat pada tahun 1388 masehi. Bhre Wengker adalah salah satu raja bawah yang masih keluarga Raja Hayam Wuruk, raja yang bertahta di Kerajaan Majapahit.
Relief candi ini menggambarkan cerita Arjuna Wiwaha, yaitu kisah perkawinan Arjuna.



15.00-16.00   Tahu & Takwa "Pong" 
JL:PANGLIMA SUDIRMAN 33, Kediri, Indonesia 60296
Telepon 354683185

 

17.30-18.00   Simpang Lima Gumul
Jika mendengar nama L’arch D’ Triomphe, apa yang terpikirkan di benak Anda? Perancis? Kejayaan? Kemakmuran? Anda benar. Semua itu merupakan nilai – nilai yang terefleksikan dari Monumen Kejayaan di Perancis. Namun jika monument yang serupa ada di Kediri, apakah yang terpikirkan di benak Anda?
Ya, Monument Kediri yang bentuknya menyerupai L’arch D’ Triomphe yang ada di Perancis tersebut berdiri megah di tengah – tengah persimpangan Lima Gumul – Kediri yang menjadi tiang pancang pengembangan kawasan Simpang Lima Gumul menjadi kawasan kota baru di Kabupaten Kediri. Bedanya, Monumen ini memiliki spirit berdirinya Kabupaten Kediri sehingga monument ini di posisikan tepat di tengah jalur lima jalan arah Pare, Kediri, Plosoklaten, Pesantren dan Menang.
Monument yang memiliki luas bangunan 804 meter persegi, di tumpu 3 tangga setinggi 3 meter dari dasar pura, dan tinggi 25 meter sehingga jika kita berada di atap monument dapat kita saksikan keseluruhan panorama Kediri dari atas dan proyeksi pengembangan kawan perdagangan ini yang secara keseluruhan seluas 37 Ha. Disisi monument Kediri terpahat relief –relief tentang sejarah Kediri hingga kesenian dan kebudayaan yang ada sekarang. Angka luas dan tinggi monument juga mencerminkan tanggal, bulan dan tahun hari jadi Kabupaten Kediri, 25 maret 804 Masehi.
Monumen Kediri yang terletak di Simpang Lima Gumul ini merupakan Ikon Kabupaten Kediri. Lokasi yang hanya berjarak 2 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Kediri dan proyeksi menjadi kota baru dan pusat perdagangan Jawa Timur bagian barat ( Central Business District ) sudah mulai melengkapi diri dengan convention hall dan gedung serbaguna, Bank daerah, terminal bus antar kota dan MPU, dan sarana rekreasi megah Water Park Gumul Paradise Island.
Kawasan ini juga tak pernah sepi pengunjung di malam hari dengan bersantai di area monument ataupun menikmati kuliner tradisional yang berjualan di pedagang kaki lima yang berjejer di area Pasar Tugu. Pada hari sabtu dan mnggu pagi kawasan ini ramai oleh pengunjung yang berolaraga jogging track, rekreasi bersama keluarga, dan juga menikmati ramainya pasar sabtu Minggu (Tugu). Perancangan ke depan, kawasan ini akan dilengkapi hotel, mall, pertokoan, pusat grosir, dan pusat produk – produk unggulan dan cinderamata. Sedangkan area monument segera digunakan sebagai mini market, gedung pertemuan cafeteria, dan pusat Informasi Pariwisata dan Perdagangan.
Sebagai obyek wisata Kabupaten Kediri yang saat ini masih dalam proses penyelesaian pembangunan. Daya tarik yang diberikan antara lain:
  1. Desain dan arsitektur dirancang hampir menyerupai Arch D’Triomphe Perancis, namun lebih ditonjolkan ke seni budaya Kabupaten Kediri
  2. Diorama tentang sejarah Kediri di dalam gedung
  3. Tinggi monumen 28 m, 8 lantai
  4. Tiga jalan terowongan bawah tanah untuk menuju ke monumen
  5. Posisi tepat di tengah simpang lima dan di pusat perdagangan Kabupaten Kediri
  6. Wisatawan dapat mencapai anjungan untuk melihat keindahan Kediri dari atas monumen
  7. Pelayanan Pusat Informasi Pariwisata dan Potensi Kabupaten Kediri
  8. Disediakan mini market, cafetaria, dan toko beragam souvenir khas Kediri



18.00-20.00   Kediri - Surabaya mampir makan malam di Jombang


Note by Yulijantik Yustin

18 Mei 2011

(NO) misty at mount KELUD

GKJW di desa Mojowarno bangunan khas peninggalan Belanda


Catatan perjalanan Sugi kali ini memang hasil dari "dendam" yang lalu, di pertengahan Maret saat ke gunung Kelud yang penuh dengan kabut. Pagi kemarin saya sempet uring-uringan lantaran rombongan yang ikut "ngaret" semua, janji semula mau berangkat jam 7 harus molor sampai dua jam. Bukan tanpa alasan karena saya takut sampai di atas Kelud tertutup kabut lagi. Akhirnya start jam 9 kita berangkat, tiga jam perjalanan sampai di pelataran parkir wisata gunung Kelud berjalan dengan lancar. Sempet juga berhenti di beberapa tempat untuk ambil foto, salah satunya di desa Mojowarno dengan obyek GKJW.

Kali ini perjalanan dari Surabaya sampai di Mojoagung, belok menyusuri jalan kecil menuju Pare. Tugu bambu runcing dapat menjadi acuan, atau arah menuju makam Gus Dur. Ini jalan pintas yang dapat kita tempuh atau lewat kota Jombang. Kondisi jalan memang banyak berlubang dan sempit sekali tapi pemandangan sawah dan pepohonan cukup menyegarkan mata kita.

We are so Lucky, langit begitu cerah walau awan banyak bergumpal dan gerimis muncul. Sesampai di parkiran kita langsung buka bekal dan makan siang dengan pemandangan yang indah. Matahari cukup terik tapi angin semilir menambah kesejukan.

Kali ini pemandangan di segala arah dapat kita lihat dengan jelas, nampak batu-batu cadas di atas tunnel dan di sederetan anak Kelud. Batu itu warna merah bata dan sebagian di tumbuhi tumbuhan liar. Banyak wisatawan yang mengabadikan foto dengan latar batu tersebut, menarik memang.

ini beberapa foto hasil hunting kemaren....


kepulan asap dari anak Kelud masih terlihat
pemandangan cantik dari atas gunung
menikmati anak kelud
deretan batu cadas di pegunungan Kelud

17 Maret 2011

misty mount KELUD

Pagi itu hari Minggu, semalem tidur ngak nyaman banget karena ada trouble listrik di Hotel tempat kita menginap. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju gunung Kelut, kita sempet mampir di kota Batu buat beli bekal diperjalanan. Begitu pula melewati dataran tinggi Pujon, jagung bakar cukup buat menghilangkan rasa "pengen" sambil menikmati sejuknya udara siang itu. Perjalanan dilanjutkan melewati waduk Selorejo, disini sempet nyasar ke pintu masuk waduk. Ternyata tidak ada jalan tembusan menuju gunung Kelud, akhirnya harus putar balik lagi.

Sebenernya bila dilihat dari wikimapia, gunung Kelud tepat berada di balik waduk Selorejo tetapi untuk naik ke anak Kelud kita harus berputar melalui Kandangan, Pare kemudian desa terakhir adalah Wates. Perjalanan dari Pujon sejak kita start sampai di atas anak Kelud sekitar dua jam setengah. Itu pun di selingi foto-foto di sekitaran waduk Selorejo dan stop untuk tanya-tanya petunjuk arah. Memang sangat minim sekali petunjuk arah ke Kelud, dan memasuki kota Pare petunjuk arah itu baru mulai jelas.

Perjalanan cukup mulus walaupun kondisi jalan sempit dan sedikit berlubang dari Pare sampai Wates ditambah lagi hujan, tetapi yang mengesankan desa Wates cukup rame. Dari sana bisa langsung ke Blitar maupun Tulungagung. Sedangkan dari Selorejo sampai Kandangan jalanan berkelok-kelok tetapi mulus banget. Memasuki kawasan wisata Gunung Kelud kita cukup bayar 5000 per orang, nampak pintu gerbang dengan museum di sebelah kanan dan warung-warung tempat istirahat di sebelah kiri. Perjalanan ke atas masih sekitar 7 KM lagi.

Setelah pintu gerbang kita disuguhi pemandangan hijau-hijau ditutupi kabut sedikit. Cukup sedih juga melihat cuaca yang kurang mendukung, tetapi perjalanan tinggal sedikit lagi :( Jarak pandang yang hanya lima meter agak serem juga ya, tapi saya mengendari mobil dengan perlahan dan sesekali nampak rombongan sepeda motor mulai turun. Sesampai di pelataran parkir gunung Kelud masih terlihat puluhan mobil dan sepeda motor, tetapi kabut sudah benar-benar menyelimuti. Pemandangan yang ada hanya kabut putih saja....

Di sisi kanan parkiran berjajar sederetan kursi-kursi dengan payung-payung di balik pagar, mungkin pemandangan dibalik pagar bagus bila tidak diselimuti kabut. Walau cuaca begini ternyata masih banyak wisatawan yang baru datang, bersama-sama kita melewati tunnel menuju anak Kelud. Tunnel sepanjang 500 meter itu dilengkapi dengan penerangan dengan lebar sekitar 2 meter. Anak Kelud sendiri tadinya adalah kawah yang sejak akhir 2007 mengeluarkan gundukan membentuk gunung baru.

Pemandangan di anak Kelud pun diselimuti kabut tebal, sehingga kita tidak bisa melihat apa-apa. Tetapi di sana ada warung yang menyediakan layanan foto langsung jadi dan sekaligus menjual VCD terbentuknya anak Kelud, jadi masih bisa melihat rupa Anak Kelud dari foto yang dipajang :) Ternyata sebelum memasuki tunnel tadi ada jalan setapak menuju kolam air panas, air disana mengandung sulfur. Fasilitas wisata di gunung Kelud cukup lengkap, terdapat warung-warung penjual makanan dan juga toiletpun bersih terawat. Mushola kecil nampak diatas bukit.

Setelah ambil foto-foto sedikit kita balik ke parkiran dan menyantap bekal yang tadi di beli di warung pak Sidik Batu. Rasa penasaran masih ada di hati, lain waktu pasti kembali kesini lagi.
Berikutnya melengkapi perjalanan kita adalah wisata kuliner yang akan posting akhir minggu ini.

24 Mei 2009

Stay at Bukit Daun Hotel and Resort - Kediri

Bukit Daun Hotel and Resort, mendengar namanya saja kita merasakan tradisional banget atau apa ya?? back to nature.....ya. Pertengahan Maret kemarin saya dan keluarga sempat stay di sini semalam. Karena memang waktu itu kita tidak punya planning untuk kemana-mana sehingga mau booking hotel di Tanjung kodok dan beberapa hotel di Batu dan Malang sudah fullbooked.

Jadinya, saya teringat customer yang memang asalnya dari Kediri. Dia pernah bercerita ada satu Hotel yang nyaman di tinggali bila kita mau Ziarah ke Goa maria. Letak Hotel ini memang tidak jauh dari Goa Maria Pohsarang di Kediri, hanya 10-15 menit saja.

Perjalanan dari Surabaya menuju Kediri ditempuh sekitar 2-3 jam dengan mengendarai mobil pribadi. Menuju ke Bukit Daun cukup mudah saja, sebelum memasuki kota Kediri (setelah pabrik rokok Gudang Garam) belok ke kanan. Sampai kita menemui terminal bus, belok kanan lagi mengikuti jalan. Letaknya tidak jauh dari terminal hanya sekitar 10 menit saja.

Fasilitas yang ada cukup lengkap untuk ukuran resort sebesar ini. Sebut saja, kolam renang lengkap dengan water boomnya. Ada kolam besar yang kedalamannya 1,5 meter dan ada kolam kecil untuk anak-anak.

Bila kita mau mengelilingi komplek resort, bisa menyewa motor roda 4. Biayanya cukup murah hanya IDR 20000 per 15 menit. Kalau anda mau mengeluarkan keringat sedikit, juga disediakan jogging track tentunya dengan pemandangan sawah dan sungai yang menyejukkan mata.

Restaurant, dibagi menjadi dua bagian: indoor dan outdoor. Indoor bisa digunakan untu pesta dengan daya tampung sekitar 300 orang. Outdoor, saya pilih saat dinner dan breakfast karena pemandangan menuju kolam renang sangat menyegarkan mata.

Souvenir store yang tidak terlalu besar, cukup lengkap untuk membeli oleh-oleh pernak-pernik khas Kediri.

Kamar, berupa deretan bungalow. Ada beberapa tipe kamar: deluxe dan superior, bedanya tentu di luas kamar dan viewnya. Tarif kamar dipatok cukup murah, hanya sekitar 250-400 ribu tergantung tipe kamar. Bila anda memiliki Kartu kredit Bank Mega akan mendapat diskon sebesar 20% (sampai masa promo habis). Semua kamar dilengkapi dengan kamar mandi, TV, AC dan connecting door. *Menurut penilaian saya: kamar disini kurang bersih, tapi untuk tarif segitu yah....masuk akal sih. Saran saya, sebaiknya anda memanggil room service bila sama seperti yang saya alami.

Makanan, pilihannya cukup variatif dan harga yang kompetitif. Untuk rasa saya beri nilai ***. Breakfast yang disuguhkan berupa buffet bar: soup, mie goreng, nasi goreng, pecel. Sepertinya pilihan terakhir yang mengugah selera, Pecel + tempe goreng dan rempeyek. Nikmat untuk menu sarapan.

Around the hotel, disekitar Resort merupakan persawahan dan dipisahkan oleh sungai. Anda bisa Ziarah ke Goa Maria di Pohsarang, tempatnya cukup hening dan nyaman untuk doa.

Sampai jumpa minggu depat di info hotel berikutnya.

Bukit Daun Photo Collection, please press Photobysugi