Laman

Tampilkan postingan dengan label Lombok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lombok. Tampilkan semua postingan

30 Juli 2015

LOMBOK ISLAND: Mataram dan Golden Palace Hotel

Pemandangan dari roof Top

lumpia goreng, nikmat dengan harga yang terjangkau

Cukup menegangkan liburan kali ini, H-5 keberangkatan ternyata ada kejadian alam Gunung Raung di timur pulau Jawa "batuk" abu vulkanik yang berdampak penutupan 5 bandara terdekat termasuk Surabaya dan Lombok (Bali, Banyuwangi, Jember). Menghawatirkan karena nasib kita tidak jelas, dan pas hari H keberangkatan ternyata kondisi aman terkendali dan penerbangan kita ke Lombok berjalan mulus on schedule.

Tiba di LOP tepat jam 2 siang dan kita langsung naik taksi menuju Golden Palace hotel di Lombok, berjarak sekitar 40 menit perjalanan dan ongkosnya 145 ribu (argo meter) sebenarnya di bandara sudah di tawarin 160 ribu (tanpa argo) selisihnya beda tipis.

Hari ini kita stay di Golden Palace Hotel di kota Mataram, hotelnya cukup gede dan masih tergolong baru. Bersih dan staff-nya cukup welcome. Kami dapat kamar di lantai 6 dengan pemandangan kota dan gunung Rinjani, kamarnya cukup besar dan bersih, AC dingin banget. Lokasi di sekitar hotel adalah perkampungan Hindu dapat dilihat dari beberapa Pura di sekelilingnya.

fasilitas seperti wifi tersedia dan gratis, kita diberi 2 lembar vocer speedy yang bisa digunakan di kamar dan main lobby. Hanya saja sambungan wifi sering putus dan kurang cepat. Kolam renang besar dan anak-anak menyukainya, restoran menyajikan makanan yang lezat dengan harga yang cukup murah.

Di lantai 12 terdapat rooftop cafe, cukup bagus melihat pemandangan kota Mataram dari atas sini terutama saat pagi dan sore hari, satu lantai dibawahnya terdapat lounge yang bisa kita pakai untuk menikmati malam. Sayangnya Gym tidak tersedia (walau ada petunjuknya) dan menurut mbak yang jaga SPA sementara ruangan dibua ruang ibadah.

Kota Mataram tidak terlalu banyak kita explore, hanya mengunjungi Mataram Mall yang berjarak sekitar 800 meter dari hotel. Lainnya, kita mampir di kota tua Ampenan dan tidak terlalu menarik.

Rekomendasi makanan di sekitar hotel adalah Warung Babi Guling Merta Yoga (Non Halal)
Jl I Gusti Jelantik Gosa, No. 32, Gebang, Cakranegara, Mataram, Lombok 83239, Indonesia
HP. 081-999435791

27 Juli 2015

Lombok island: prepare

Pantai Kuta Lombok, dari Bukit Pujun (Ashtari Ocean View Restaurant and Lounge)
 
 
akhirnya final decision Lebaran kali ini kita ke Lombok...

Angan-angan yang sudah lama terpendam, aku pengen ngajak keluarga melihat keindahan Pulau Lombok, sejak berkali-kali mengajak mereka dan tidak pernah setuju dengan alasan cari makan susah, enakan ke Bali, bla bla bla..... Tapi kali ini aku bulatkan tekad untuk ngajak mereka ke Lombok, pulau di timur Bali yang pernah aku kunjungi terakhir di bulan November 2012

Berawal dari promo salah satu web yang kasi diskon 50.000/tiket untuk pembelian tiket Garuda Indonesia, dimana kita jarang-jarang pake full service flight setiap kali bepergian. Dengan sekali jalan sekitar 450 ribu, aku rasa harga segitu udah worthed dan pulangnya beli pake GFF miles sejumlah 8000 miles/rute plus tax cuman bayar 150 ribu saja. Well, urusan tiket selesai. Done.

Mulai searching penginapannya, rencana awal pengen jalan-jalan ke Sembalun mengenang pendakian 3 tahun lalu terus tujuan kedua ke pantai-pantai yang ada bukitnya dimana sering aku lihat di account IG. Jadi aku pikir pilihan pertama harus nginep di kota Mataram, selain pasti harga lebih murah dan lokasinya ada ditengah-tengah. Pilihan jatuh di Golden Palace hotel dengan harga sekitar 400 ribu per malam sudah termasuk makan pagi. 

Hotel kedua, sebenarnya pengen nginep di Gili Trawangan, secara saya tidak pernah ke gili-gili dan kayaknya semua orang membicarakan pulau-pulau cantik di barat Lombok ini. Ngebet pengen nginep di Villa Sunset Ombak, tapi ternyata sudah full booking, sedih. Cari-cari hotel lainnya kayaknya ngak ada yang pas, kalo ngak karena over budget atau review yang kurang memuaskan. Well, akhirnya muter cari-cari di sekitar Senggigi karena denger-denger dari sini bisa nyebrang langusng ke Gili. Antara The Sentosa dan Kila Senggigi, trus aku milih Kila karena reviewnya lebih bagus dan 3 tahun kemaren sempet liat-liat dari luar pagar karena aku nginep di Mascot Hotel, sebelah Kila (dulu Senggigi Aerowisata Hotel). Dan dapet review dari mama yang taon kemaren nginep disini.

Pilihan ketiga, pastinya Novotel Lombok. Karena experience 3 tahun kemaren sempet menikmati  sunset di Novotel jadi kepincut sama hotel ini. Lokasinya ada di selatan pulau Lombok, hanya sekitar 30 menit dari airport, rekomen banget.

Terakhir tentunya masalah transportasi, saya sempet contact dengan beberapa rentcar di Lombok. Rata-rata mereka mematok harga 400-500 ribu untuk pemakaian 12 jam sudah termasuk sopir dan BBM. Karena rute yang saya mau cukup jauh (muterin setengah pulau), akhirnya aku dapet 1,5 juta untuk pemakaian 2 hari sudah all in. Rute hari pertama: Mataram - Sembalun - Senaru - Senggigi - Mataram, dan hari kedua: Mataram - Pantai Selong Belanak - Pantai Mawun - Kuta - Senggigi. Sedikit overprice sih tapi saat itu tepat dari Lebaran, peak season. 

Berikut contact hotel dan rentcar yang saya pakai:

Golden Palace Hotel Lombok
Jalan Sriwijaya No. 38, Cakranegara, Kec. Mataram, 
Nusa Tenggara Barat. 83232, Indonesia
 
Kila Senggigi Beach Hotel
Jalan Pantai Senggigi, Gunungsari, Senggigi, Kabupaten Lombok Barat, 
Nusa Tenggara Bar. 83355, Indonesia
 
Novotel Lombok Resort and Villa
Mandalika Resort, Pantai Putri Nyale, Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, 
Nusa Tenggara Bar. 83001, Indonesia
 
Prima Lombok Travel 
Kavling IV B, Taman Elite Rinjani Asri II, Kec. Mataram, 83511, Indonesia
 
 

19 Desember 2012

live in MASCOT Beach Hotel Sengigi-Lombok

3 hari 2 malam di Rinjani membuat kita kangen dengan kasur empuk, walaupun keindahan Rinjani tak akan terlupakan.

over the windows from our room
pool and cottage

kolam renang dengan taman yang rimbun pohon kelapa
pantai Sengigi, salah satu atraksi menarik dekat hotel
Sewa Mobil untuk keliling Lombok
Mascot hotel yang terletak di pusat keramaian Sengigi Beach memang salah satu yang juara, ini menurut saya loh, dan belum pernah nginep di Sengigi sebelumnya atau Lombok pun baru sekali ini. Hahaha, rada ngak obyektif sih! Anyway, mungkin saya akan cerita sedikit mengenai hotel yang saya tinggali kali ini.

Mascot Hotel dengan alamat sebagai berikut Jalan Raya Senggigi P.O Box 907, Senggigi, Lombok, Indonesia, rada susah juga ya kalau mencari dengan alamat seperti itu. Tapi gini, direction termudah adalah mencari Sengigi Beach Hotel. Nah, hotel ini persis terletak sebelum Sengigi Beach Hotel. Mudah banget sebetulnya, walau tidak terletak di pinggir jalan Raya tetapi persis di pusat keramaian Sengigi.

Malam itu saya dapat kamar dengan pemandangan taman menghadap ke pantai dan kolam renang, lokasinya tidak jauh dari lobi. Kamarnya berbentuk cottage, tiap bangunan berisi dua kamar. Dengan teras dari lantai kayu yang cukup luas. Kamarnya besar, bersih, dengan jendela-jendela besar di sisi kanan-kirinya. Pun dengan kamar mandinya berukuran besar.

Pantai Sengigi, pemandangan dari kolam renang
 Taman dengan pohon kelapa disana sini seperti kebanyakan hotel di Bali dengan rumput hijau yang luas. Kolam renang terletak di belakang yang dibatasi pagar dengan pantai. Restauran berbentuk rumah joglo ada persis disebelahnya.

Hotel ini cukup menyenangkan dari segi lokasi, harga dan pelayanan. Oya, pelayanan disini cukup memuaskan, kami sangat terbantu. Mulai dari pelayanan yang cepat, dan mereka bisa memberikan beberapa saran-saran untuk perjalanan kita selanjutnya, termasuk menyewakan mobil yang mengantar kita keliling Mataram sampai Kuta Beach.

baca juga review saya di Tripadvisor

18 Desember 2012

RINJANI (tambahan): sunrise di Sengigi sampai sunset di Kuta

Selama 3 hari dan 2 malam berada di Rinjani adalah satu pengalaman yang tidak bisa hilang begitu saja, walau sudah sebulan berlalu, rasanya baru kemarin saya meninggalkannya.....

Pantai Sengigi, putih, bersih

Hotel Mascot Sengigi, the pool.
bukit MALIMBU, one of the hotspot at Sengigi


Penjual ikan bakar disepanjang bukit Malimbu

Mutiara, salah satu hasil kerajianan di Lombok

Novotel Lombok

Breeze bar, enjoyed the noon. cheers.
Ini sedikit cerita setelah pendakian kita usai. Sesampai di desa Senaru, hujan deras, sepi, aroma pohon kopi menambah segar. 16.17 WITA. Pos pantau Senaru sudah tutup, akhirnya kita melepas lelah sambil mengeringkan badan di satu gubuk yang tidak jauh dari sana. Ada seorang bapak tukang ojek yang rupanya juga lagi bernaung, sambil ngobrol-ngobrol dengan bapak tadi, dia menawarkan penginapan di Senaru. Tapi kita pengen cepat meninggalkan Senaru dari pada menunggu satu malam lagi di desa ini.

Si bapak tadi menelepon, menanyakan ke seseorang diseberang sana, dia menawarkan sewa mobil 300 rb menuju Sengigi di Lombok barat. Perjalanan akan memakan waktu sekitar 2-3 jam, akhirnya tawaran itu kami ambil dari pada harus sewa ojek 200 ribu per motor. Tidak bisa membayangkan capeknya meminggul ransel dan ojek.

Tidak lama datang mobil Carry dan kita bergegas berangkat.

Dalam perjalanan menuju Sengigi kita disuguhi jalanan beraspal yang mulus, oya, saat melewati Senaru tadi ada beberapa penginapan dan warung. Rupanya desa ini lebih hidup dalam sektor pariwisata dari pada di sisi Sembalun.

19.10 Sengigi Beach
Memasuki daerah wisata Sengigi mulai nampak hotel-hotel di kanan kiri jalan, ini merupakan kawasan layaknya Kuta di Bali tetapi kondisinya tampak jauh berbeda dengan Bali. Pusat keramaian tidak lebih dari sepuluh tempat kehidupan malam seperti Bar dan Cafe. Restaurant pun tidak banyak, hanya ada beberapa yang nampak eye catching. Sungguh tidak dalam bayangan saya bahwa Sengigi sesepi ini.

Mascot Hotel, adalah hotel yang direkomendasikan oleh sopir yang mengantar kita dari Senaru. Akan saya posting tentang review hotel ini tersendiri. Setelah urusan check in selesai, kita langsung berendam di kolam renang dan menikmati bir dingin. Dan berikutnya makan di restauran yang ada di sekitar hotel dan menikmati satu jam pijat refleksi.

Sunrise di Sengigi Beach
Hotel yang kita tinggalin cukup strategis, lokasinya ada disebelah Sengigi Beach Hotel milik Garuda Indonesia. Cukup bagus karena ada di semenanjung sehingga bisa menikmati pemandangan dari berbagai arah. Pagi itu saya berjalan-jalan disepanjang pantai dan berenang di pantai Sengigi yang putih bersih. Ada beberapa penjual perhiasan mutiara yang menjajakan dagangannya, yang lain menawarkan sewa perahu menuju Gili Trawangan.

PEARL, lombok merupakan salah satu penghasil mutiara di Indonesia. Ada beberapa penambang mutiara di pulau Lombok, setahu saya seperti yang diceritakan beberapa orang, mutiara tersebut ada yang di kelola seperti tambak. Dan banyak sekali pengerajin mutiara di sini, sampai ke manca negara.

Bukit Malimbu
Setelah menikmati sarapan di hotel, kita bergegas untuk meninggalkan Sengigi menuju Bukit Malimbu dengan menyewa mobil dari hotel. Ini yang membedakan Lombok dan Bli, di sini pemandangan sekelas Uluwatu terhampar di pinggir jalan raya Sengigi. Di kejauhan bisa melihat 3 titik, ya itu adalah 3 Gili yang lagi naik daun: Gili Meno, Gili Air dan Gili Trawangan yang paling besar. Disana kita bisa sambil menikmati ikan bakar dari warung-warung yang menjajakan disepanjang jalan, cukup murah unutk satu ekor ikan bakar bersama sambel lalapan dan nasi hanya dipatok 20-30 ribu saja.
Sepanjang perjalanan di Lombok Barat, mulus.
Mataram
Di kota ini kita menikmati ayam Taliwang yang cukup tersohor, menurut saya ya biasa saja sih, sama seperti ayam goreng/bakar lainnya. Hanya saja ukuran ayam ini kecil, masih anakan. Selanjutnya mampir ke salah satu toko mutiara, nganterin Anton belanja untuk mama tercinta :)

Dalam perjalanan menuju Airport, saya mendapat SMS dari Citilink bahwa penerbangan kita di delay sampai 3 jam, setelah konfirmasi dengan call center saya meminta pak sopir mengantar ke Novotel Lombok. Jaraknya hanya setengah jam dari airport.

Sunset di Kuta Beach
Terima kasih atas delay yang telah di berikan ;) Jadi kita bisa mampir dan menikmati sunset di Kuta Beach. Novotel Lombok satu-satunya hotel berbintang di area ini. Pantainya memang tidak ngehits seperti Sengigi tetapi Kuta memiliki keindahan lain yang beda dengan Sengigi.

Sunset at Kuta Beach Lombok
Sambil menikmati minuman dan snack sampai akhirnya memesan menu makan malam, kita menikmati sunset di pool restaurant Novotel Lombok.

Ciao!!

14 Desember 2012

Rinjani: Segara Anakan ke Desa Senaru

perjalanan berakhir: pintu Senaru sudah di depan mata

Segara Anakan, kita meninggalkanmu!! ingin segera kembali.....

pendakian ke Plawangan Senaru penuh dengan bebatuan
Istirahat sejenak di separuh pendakian ke Plawangan Senaru
gunung baru yang ditimbulkan dari letusan Rinjani
berapa langkah meninggalakan Segara Anakan, mata selalu ingin menoleh kebelakang
arah panah di plawangan Senaru yang sudah rusak, membuat kita kehilangan arah selama sejam.
Meninggalkan Segara Anakan
SURGA
tebing batu-batu disepanjang jalan menuju Plawangan Senaru
Hari itu kita baru ngepak tenda dan semua peralatan kemping kita di pinggiran danau Segara Anakan, Rinjani. Kabut masih menyelimuti permukaan air saat aku dan Anton mulai menjajakan kaki meninggalkan area Perkemahan. Perjalanan menuju Senaru (pos terakhir kita) masih cukup panjang, sambil mendaki ke Penanjakan Senaru, kita berbincang dengan beberapa porter yang mengiringi kita. "hari ini bermalam di pos 2 saja mas, kira-kira masih 3-4 jam" begitu kata si porter tadi. Kita berpikiran yah, kalau memang tidak bisa sampai di desa Senaru, kita akan bermalam di pos 2.

Sesampai di Plawangan Senaru, kita rehat sejenak, setelah melewati tanjakan yang cukup ekstrim yang mereka sebut "seribu batu" ya memang disana banyak terhampar batu-batu berukuran besar. Plawangan Senaru sendiri sangat kotor, berbeda dengan Plawangan Sembalun yang cukup bersih dan nyaman untuk berkemah. Nah, disini kita tersesat sekurangnya hampir 1 jam dikarenakan petunjuk arah yang tidak jelas. Sampai ada pendaki lain yang lewat dan kita berjalan mersama menyusuri turunan Senaru.

Turunan Senaru diawali dengan bebatuan dan tanah yang sedikit padat sehingga cukup nyaman untuk sedikit berlari kecil, cuman sayang kalau pemandangan cemara dan curah lembah bila tidak diabadikan. Sambil menunggu Anton yang kakinya sakit, saya mencoba untuk mengambil beberapa gambar. Dan, ada kejadian "gaib" atau entah apa itu namanya... ya, disini adalah hutan yang percaya atau tidak pasti ada kehidupan lain. Saya melihat beberapa kali sosok bapak tua menggunakan peci putih, padahal setelah diamati adalah seonggok kaku yang habis terbakar. Setelah menoleh ke lain arah, saya melihat onggokan kayu tadi adalah seorang bapak tua. Dan, hal ini beberapa kali terjadi dalam penglihatan saya.

porter menyusuri tebing terjal di Plawangan Senaru
Setalah satu setengah jam berjalan, kita sampai di pos 3: disini kita bongkar muatan, stok bahan makanan kita berikan ke beberapa porter yang bersama kita tadi saat menanjak ke Plawangan Senaru. Sambil menikmati kopi panas yang disediakan porter tadi, kita berbincang untuk menyelesaikan samapi ke desa Senaru hari ini juga. Waktu sudah menunjukan jam 2 siang, sehingga kita harus bergegas. Tidak kurang dari 3 jam akhirnya kita sampai di desa dengan tubuh yang basah kuyup tersiram hujan deras.

Perjalanan dari pos 3 ke desa Senaru, melewati hutan yang cukup rimbun. Setapak yang ada terjadi dengan akar-akar pepohonan, sehingga menyerupai anak tangga. Di kanan kiri jalan setapak tumbuh bunga-bunga yang cantik. Dalam perjalanan tadi kita berpapasan dengan romongan dari Bali yang akan melakukan upacara adat di Plawangan Senaru. Sebenarnya cukup serem juga sih kalau harus tinggal di pos 2 seperti saran dari porter tadi :)

Pos 3 Senaru, cukup besar dan nyaman
Pos 2 Senaru sudah di depan mata
Pos 1 Senaru, di belakang nampak jalur berupa anak tangga alami dari akar pepohonan
Dari perjalanan kita hari ini, menyajikan pemandangan yang berbeda antara Sembalun dan Senaru. Saran saya bagi yang ingin melakukan pendakian Rinjani, jangan lewatkan dua rute tersebut.

Rindangnya pepohonan hutan Senaru
Postingan terakhir Rute Sembalun-Senaru: MARILAH KITA LESTARIKAN DAN JAGA BERSAMA!!

11 Desember 2012

RINJANI: menikmati SPA di sumber air panas Segara Anak

Keindahan Rinjani tidak ada habisnya
Menikmati keindahan panorama dari atas Plawangan Sembalun membuat kita malas untuk beranjak, kalau saja tidak lagi ingat bahwa perjalanan masih memakan waktu2-3 hari lagi untuk kembali ke desa Senaru.

Menuruni lereng bukit Plawangan Sembalun sampai ke danau Segara Anakan ternyata cukup memakan waktu sampai hampir 3 jam. Tidak terbayang sebelumnya akan sebegitu lamanya, karena danau terasa dekat tetapi ternyata salah! Turunan pertama cukup curam dengan stapak beberapa dari batu dan tebing, selanjutnya hamparan ilalang dan pohon Cemara menyertai perjalanan kita sampai ke danau.


Jalan turun menuju danau Segara Anakan, berbatu dan terjal
  
satu jembatan dalam perjalanan yang masih utuh
Sesampai di danau Segara Anakan langsung melepas lelah dan penat
Memancing, salah satu aktivitas menjelang makan malam


kolam-kolam dari tumpukan batu kali di mata air panas
berendam air panas langsung dari sumbernya, konon dapat menyembuhkan berbagai penyakit

Ngopi, paling nikmat sambil menikmati pemandangan

Sesampai di Segara Anak kita langsung merendam kaki di air yang dingin, sebelum mendirikan tenda di camping ground. Kita mendirikan tenda di tempat yang lebih tinggi, dan lokasinya agak jauh dari tenda-tenda yang lain. Tadinya ada satu tenda disana tetapi ternyata mereka pergi meninggalkan Segara Anak menuju Plawangan Sembalun.

Hujan di sore itu membuat kita terlelap, 1-2 jam merebahkan badan teramat sangat nikmat.

Dan, stok air minum kita sudah menipis, belum lagi hujan tidak reda-reda. Alhasil kita menampung air hujan untuk minum kpi sore itu, suatu yang belum pernah kami lakukan sebelumnya. Dan ternyata fine-fine saja :)

Sore itu kita habiskan untuk berendam di mata air panas yang terletak diballik bukit. Ada beberapa penduduk lokal yang sedang berendam disana, mereka membuat kolam-kolam dari batu kali yang ditumpuk-tumpul. Menurut sebagian orang berpendapat bahawa dengan berendam di air panas ini dapat menyembuhkan penyakit. Kalau menurut saya ini adalah kenikmatan.

Menjelang malam, pemandangan di Segara Anakan sedikit berbeda. Damai. Beberapa orang sedang asik berenang dan yang lainnya memancing. Sekelompok pendaki sedang menyalakan api unggun dan yang lain bermain gitar sambil bernyanyi. Suasana seperti ini yang tidak pernah aku dapat selama di kota, kebersamaan.

Api Unggun, melawan dingin dimalam hari

Setelah melewati malam di pinggiran danau Segara anakan, esok harinya kita berkemas menuju desa Senaru.


ayo kita jaga bersama kebersihan RINJANI

3 Desember 2012

RINJANI: menyusuri savanah Sembalun dan "7 bukit penyesalan"

Perjalanan semalam sampai di desa Sembalun cukup mengesankan, dan semuanya berjalan dengan lancar.....
 
Mentari pagi di Plawangan Sembalun
 
selfie: saya tidak menyia-nyiakan untuk mengabadikan pemandangan ini

camping ground di Plawangan Sembalun
 
bertahan

POS SEMBALUN
Berlokasi di desa Sembalun yang merupakan salah satu pintu pendakian menuju Rinjani, Pos ini cukup sederhana, bangunan semacam balai desa dengan miniatur Gunung Rinjani serta peta dan foto-foto tampak di dinding-dinding bangunan. Sambil melepas lelah sejenak, kita melihat informasi-informasi yang ada sambil mengisi formulir pendakian. Cukup hanya dengan membayar 10 ribu (murah banget), kita sudah mendapat satu kitir pendakian.

Setelah mendapat pengarahan dari petugas, kita meninggalkan pos dan memulai pendakian ini. Seharusnya pendakian dimulai di samping pos tersebut, hanya saja sopir yang mengantar kita memberi tumpangan ke desa terdekat yang lebih dekat menuju pos 1.

kartu tanda masuk pendakian Rinjani


SAVANAH SEMBALUN
Mengawali pendakian ini, kita disuguhi hamparan savanah yang menguning, begitu luas dan cantik. Cantik, ilalang itu menyelimuti kontur bukit dan lembah, ada keinginan untuk berguling-guling disana dari atas sampai bawah bila tidak ingat perjalanan masih panjang :p Kami mengikuti jalan setapak yang sudah jelas, beberapa rombongan baik itu sekala banyak ataupun yang hanya berkelompok 2-3 orang mengiringi perjalanan kami. Beberapa menggunakan porter, memikul perbekalain: tenda, makanan, ransel, kompor. Kami berdua yang baru pertama kali mendaki dan kemping justru tidak menggunakan porter sama sekali. Nekad!!

savanah Sembalun: padang ilalang itu menyeliumuti lereng dan bukit
Pos 1 kita lalui dalam perjalana selama 1 jam lebih, pos yang terbuat dari besi dan seng ini sudah tidak beratap. Kita lanjutka ke pos 2, yang hanya berjarak 40 menit perjalanan dari pos 1. Disana terdapat mata air, sehingga menjadi pos buat para pendaki untuk masak dan beristirahat. Pos 2 ini tidak ada bangunannya, hanya berupa jembatan dan plang bertulis "POS 2". Tidak menyia-nyiakan waktu, saya menyiapkan perbekalan untuk dimasak.Menyantap indomie dan nyeruput kopi panas saat seperti ini sungguh luar biasa.

Cukup lama kita berisitirahat sambil makan siang di pos 2, perjalanan lanjut ke pos 3. Berjarak sekitar 1 jam 40 menit dengan kontur naik yang landai tetap di hiasai padang savanah. Pos ini merupakan pos terakhir sebelum kita naik "7 bukit penyesalan", entah mengapa bukit ini dinamai demikian. Dari yang sudah saya baca di beberapa blog, bukit ini memang mempunyai tantangan yang luar biasa sebelum sampai di Plawangan Sembalun.

7 BUKIT PENYESALAN
Konon, setiap kita menegadah ke atas, sepertinya tanjakan sudah selesai tetapi begitu sudah sampai diatas ternyata masih ada tanjakan serupa. Dan ini terjadi sampai 7 kali. Saya benar-benar tidak menghitung ada berapa bukit disana, atau, karena lelah yang luar biasa membuat saya tidak ingin menggunakan otak untuk mengingat-ingat jumlah bukit yang sudah saya lalui. Yang saya tau dan rasakan, maksudnya kami berdua, adalah CAPEK.

Memulai perjalanan mendaki 7 Bukit Penyesalan

7 Bukit Penyesalan mulai berkabut

capeeeekkkk!!!


Mulai jam 10 pagi tadi di desa Sembalun, sampai jam 4 sore di Pos 3 sudah cukup menguras tenaga kita. Dimana tiap ransel berbobot hampir 10 KG, belum lagi kita tidak pernah latihan hiking, walaupun hampir tiap hari saya ngegym tapi tetap ini LUAR BIASA.

Bukit ini ditumbuhi pohon-pohon cemara, cukup rindang walaupun kita tidak merasakan rindang karena hari sudah mulai malam. Senter sudah mulai kita nyalakan, lampu-lampu itu berhamburan diantara pepohonan membuat pemandangan unik tersendiri.

Anton yang dari tadi cukup semangat, akhirnya harus luluh juga "sudah ko, aku mau tidur dulu!" tergeletaklah dia diantara pohon-pohon cemara, saya hanya bisa menunggu sambil meregangkan otot-otot kaki. Sampai ketua rombongan yang dari tadi bersama kita memecahkan suasana: "ayo mas, bangun, jangan tidur disini. Sudah deket kok!!" Akhirnya kita pun bergegas, tidak berapa lama kita sudah menemukan camping ground Plawangan Sembalun. Sudah banyak tenda-tenda disana dan kita langsung mendirikan tenda diantaranya.

PLAWANGAN SEMBALUN
Capek yang luar biasa setelah hampir 10 jam pendakian dari Desa Sembalun menuju Plawangan Sembalun, membuat saya mati rasa dan ingin cepat-cepat merebahkan badan. Walaupun perut kosong, badan sudah tidak kompromi untuk beristirahat. Anton yang juga kelelahan dan kelaparan cuman aku janjiin untuk makan, dan sampai keesokan harinya baru sadar kalau semalam belum makan apa pun, hanya secangkir kopi 3 in 1 dari tenda sebelah.

Pemandangan lembah Sembalun dari Plawangan


Danau Segara Anakan: pemandangan dari tenda yang kita dirikan semalam

mandi hangat mentari pagi

Anton dan tenda biru :)

Portable toilet, ini disediakan oleh porter untuk tamunya.

Udara dingin yang menusuk sampai tulang membuat saya tidak bisa tidur, sleeping bag yang tadinya saya pakai untuk alas tidur akhirnya saya gunakan selimut bagai kepompong. Bodoh, ini memang jadi satu pengalaman, ternyata manfaat sleeping bag itu bukan untuk alas tidur, tetapi untuk selimut. Tidak butuh se-empuk apapun alas tidur kita di tenda kalau kedinginan ya tetep aja ga bisa tidur.

Pagi hari, saya terbangun oleh keributan diluar sana. Beberapa porter tenda sebelah sudah mempersiapkan makan pagi untuk tamunya, dan sedikit keributan candaan mereka. Begitu keluar dari tenda, oh my God, diluar sana mentari baru muncul dan danau Segara Anakan cukup jelas terlihat dari atas sini. Semalam gelap, tidak sadar kalau di depan kita ada pemandangan sedemikian menabjubkan.

Inilah keindahan lukisan Tuhan, sekali waktu kabut datang menyelimuti. Dan Kami pun menghabiskan waktu sejenak di Plawangan Sembalun, melihat hamparan savanah yang kita lalui kemarin. Indahnya luar biasa, duduk bermandi sinar mentari pagi.

Kami tidak melanjutakn untuk mendaki puncak Rinjani, dibutuhkan sekitar 2-3 jam untuk kesana. Setelah makan pagi dengan secangkir kopi dan semangkok sereal, kita berkemas. Selanjutnya adalah menuruni Plawangan Sembalun menuju Danau Segara Anakan.


semua pertanyaan boleh di mantion ke twitter @travelwithsugi