Laman

Tampilkan postingan dengan label lamongan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lamongan. Tampilkan semua postingan

2 Agustus 2010

jalan-jalan bareng Komunitas baru






Hari Jumat lalu saya diajak seorang kawan untuk mengikuti event yang diadakan oleh komunitas Jejak Petjinan. Komunitas ini sendiri sudah mengadakan even serupa untuk yang keempat kalinya. Jejak Petjinan digagas oleh Paulina Mayasari yang biasa dipanggil Maya, dengan misi untung menyatukan perbedaan antara Pribumi dengan peranakan Tionghoa. Lebih lanjut tentang Jejak Petjinan bisa klik disini.

Minggu pagi kita sudah berkumpul di Giant Supermarket jalan Rajawali, tempat yang telah ditentukan oleh panitia. Jadwal keberangkatan semula jam 6.30 terpaksa harus molor 30 menit untuk persiapan dan registrasi peserta. Peserta cukup banyak, total 55 orang dengan panitia. Mulai dari anak-anak sampai kakek-nenek.

Perjalanan menuju Tuban di tempuh selama 2,5 jam, persis arloji saya menujukkan jam 9 lewat 30 menit saat bus kita memasuki area parkir Klenteng Kwan Sing Bio. Dan semua peserta bergegas turun memasuki area klenteng dari pintu samping. Cuaca cukup terik, matahari bersinar sangat cerahnya.

Memasuki Klenteng Kwan Sing Bio atau lebih populer disebut Klenteng Khong Cho, semua peserta asik mengabadikan bagunan-bangunan di sekitar taman yang mulai dibuat panggung untuk acara ulang tahun klenteng Selasa besok.

Yang lain memperhatikan dapur terbuka di sebelah barat taman, dapur ini menyatu dengan bangunan untuk ruang makan. Menu yang disediakan ada nasi goreng dan mie goreng, bagi pengunjung boleh makan dengan gratis (non-halal).

Tidak berapa lama pengurus dari Klenteng, Bapak Gunawan siap menyambut kita. Beliau memberikan sambutan dan penjelasan mengenai sejarah Klenteng ini, juga menjawab beberapa pertanyaan dari peserta.

Selanjutnya kita diajak mengelilingi bangunan di sekitar klenteng, saya memilih untuk melihat pantai diseberang Klenteng. Disitu sempat menikamati es degan dan pemandangan laut lepas. Beberapa penjual bakso dan siwalan menawarkan dagangannya. Di kejauhan nampak perahu-perahu nelayan yang sedang di parkir berjejeran.

Setelah kembali memasuki Klenteng, sepasang peserta menanyakan tentang ritual doa di Klenteng. Sambil ingin menunjukkan pada teman tadi, saya juga ikut doa. Membeli satu set hio (alat sembahyang umat Budha) seharga 15 ribu terdiri dari kertas uang, 2 pasang lilin, hio besar dan hio kecil. Mulailah kita bersembahyang, dimulai dengan memasang lilin dan menyalakan hio. Ritual pertama adalah menghadap langit, kemudian sesuai urut-urutan dari satu samapi ke tujuh. Dan terakhir ditutup dengan membakar uang kertas di Pagoda.

Karena waktu agak molor dari jadwal, kita bergegas menuju tempat berikutnya yaitu Tjio Ling Kiong atau disebut Klenteng Mak Cho. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Klenteng Khong Cho, hanya beberapa kilometer. Letaknya persis di seberang alun-alun kota.

Klenteng ini tidak sebesar Klenteng Khong Cho, hanya terdiri dari bangunan utama dan bangunan kedua di belakang. Tetapi memiliki keunikan tersendiri, dengan gambar-gambar sejarah di kanan kiri dinding. Setelah melihat bangunan Klenteng Mak Cho, kita melewati gang kecil di samping Klenteng menuju pemukiman penduduk. Disini kita melihat rumah kuno yang ditinggali oleh Pecinan Tuban.

Selesai melihat kehidupan pecinan Tuban, waktu pas untuk makan siang. Kita digiring menuju alun-alun diseberang Klenteng, disini ada dua pohon beringin besar cukup rindang ditengah teriknya siang itu. Sambil menikmati makan siang di bawah pohon beringin, kita saling bertukar cerita dan saling mengenal satu sama lainnya.

Setelah beristirahat sejenak, perjalanan dilanjutkan menuju Masjid Agung Tuban di sisi barat alun-alun. Disini kesempatan kita untuk melihat sejarah dan bangunan Masjid yang terletak di depan makam Sunan Bonang. 30 menit mengitari masjid, selanjutnya menuju makam Sunan Bonang. Sunan Bonang merupakan salah satu dari wali songo dan denger-denger masih keturunan Tionghoa.

Memasuki area makam di sambut dengan bangunan masjid di sisi barat dan bangunan tempat wudhu di sisi timur. Makam ini berbaur dengan makam umum dengan luas yang tidak begitu besar. Makam Sunan Bonang sendiri berada persis di tengah-tengah, berupa bangunan persegi empat dengan atap yang rendah sehingga peziarah harus jongkok untuk masuk kedalam.

Sekembali dari makam, saya sempatkan untuk melewati pasar di sisi selatan. Banyak penjual disini, mulai dari baju, sovenir, kurma, dan berbagai macam oleh-oleh lainnya. Karena saat itu hari minggu jadi cukup banyak peziarah yang berkunjung.

Berakhir sudah perjalanan di kota Tuban, sebelum kembali ke Surabaya kita mampir di kota Babat untuk melihat proses pembuatan wingko babat di Lo Lan Ing. Perjalanan satu jam menuju kota Babat cukup untuk beristirahat sejenak. Sampailah kita di depan toko Lo Lan Ing, yang menarik disini ada puisi yang cukup mengelitik.

PUISI WINGKO

Suatu hari nanti
Wingko Babat jadi Terkenal
ke seluruh dunia
Seperti Pizza dari Italia

Suatu hari nanti
Pembuat Wingko Lo Lan Ing jadi Ternama
Seperti Mc Donalds

Suatu hari nanti
Wingko Lo Lan Ing jadi Ternama
Jadi makanan kecil
Di pesawat Garuda Indonesia
Makanan kecil di istana Raja dan Presiden

Bukan Khayalan yang ingin saya berikan
TAPI KEINGINAN YANG NYATA

Seperti cerita yang ditulis oleh temen baru dari komunitas ini di blognya: inijie.com

Di Pabrik Lo Lan ing, pertama kita disugguhi wingko oleh si pemilik. Pabrik ini lokasinya di belakang toko, pertama adalah tempat untuk packaging. Ada 4 orang yang sibuk membungkusi wingko kecil-kecil dengan kertas, dan di lem dengan lem kanji.

Kemudian area produksinya, berada di bagian belakang bagunan. Terdiri dari dua oven yang terbuat dari bata dan menggunakan kayu bakar, persis seperti oven untuk membakar pizza. Di sisi paling belakang adalah pembuatan jenang ketan hitam. Proses pembuatan jenang memakan waktu sekitar 4 jam dan harus diuleni terus menerus.

Setelah melihat proses pembuatan, sebagian peserta belanja untuk oleh-oleh. Dan akhirnya selesai sudah perjalanan kali ini, kita sempat mampir di Lamongan untuk makan malam. Tentunya Soto Ayam Lamongan yang jadi menu andalan.

-can't wait for the next event of Jejak Petjinan-

17 Mei 2009

Live in Tanjung Kodok Beach Resort

Start dari minggu lalu setiap weekend saya akan memberikan informasi mengenai hotel-hotel, minggu lalu sudah saya ulas tentang Santika Premier Hotel di Malang. Kali ini saya mencoba untuk menginformasikan Hotel atau lebih tepatnya Resort yaitu Tanjung Kodok Beach Resort.

Terletak di kabupaten Lamongan, resort ini merupakan grup dari Klub Bunga di Batu dan Kartika Graha di malang. Bila dari Surabaya cukup menempuh perjalanan dengan mengendarai mobil sekitar 1,5 jam. Melewati tol ke arah Gresik sampai ujung tol, kemudian belok ke kiri. Dari keluar pintu tol menempuh waktu sekitar setengah jam.

Letak resort ini memang diatas batu karang yang menyerupai kodok (=katak). Dulunya sebelum resort ini berdiri, kawasan tanjung kodok sudah menjadi tempat wisata pantai dan goa. ya, ada beberapa goa disana yang memperlihatkan keindahan stalaknit. Salah satunya adalah goa Maharani yang terletak di seberang tanjung kodok.

Resort ini merupakan kawasan wisata, bersebelahan dengan Wisata Bahari Lamongan (WBL) atau disebut juga Jatim Park 2. Yang menyediakan berbagai macam permainan, seperti area Dufan di jakarta serta kolam renang seperti di Ancol. Serta tidak ketinggalan pula permainan water sport tentunya.

Oke, about the resort.... dengan mengusung gaya minimalis, mereka menyediakan beberapa tipe kamar yaitu Deluxe dan Pavilliun serta beberapa villa. Tipe kamar Deluxe dan villa semua menghadap ke laut (sea view).

Tipe paviliun berdiri dibangunan yang terpisah yaitu di seberang lobby (garden view). Bila Anda rombongan besar mereka menyediakan tipe kamar paviliun untuk 8 orang dan untuk rombongan kecil ada tipe paviliun dengan triple bed.

Bila Anda menghabiskan waktu di weekends, akan mendapat tambahan complimentary dinner. Menu dinner berupa makanan olahan seafood, ada ikan bakar dan chinese food. Nilai **** untuk makanannya. Tapi bila weekdays mereka hanya menyediakan breakfast saja, tentunya tarif yang diberlakukan juga berbeda.

Jangan khawatir bila anda memerlukan air panas atau mineral water, karena untuk setiap lorong kamar mereka menyediakan dispenser. Bila Anda hanya ingin makan mie instant cukup menyeduhnya di sana tanpa harus repot-repot minta lagi ke room service. Sebagai catatan, makanan di sekitar hotel maupun di foodcourt WBL tidak begitu enak (menurut lidah saya).....heheehhe atau saya belum menemukan makanan yang enak ya disana?? Tapi jangan khawatir karena mereka juga menyediakan drug store yang menjual aneka makanan kecil, minuman sampai souvenir.

Oke, bagi Teman-teman yang merencanakan liburan pantai tidak ada salahnya mencoba Tanjung Kodok Beach Resort. Catatan: tahun depan mulai dibangun kolam renang di kawasan resort sendiri yang terpisah dari WBL. Kolam renang ini dibangun di tepi pantai, semoga dapat menjadi nilai tambah.


Tanjung Kodok Photo Collection press photobysugi